PALU, NOMONI.id – Sulawesi Tengah adalah sebuah provinsi di bagian tengah Pulau Sulawesi, Indonesia. Ibu kota provinsi ini adalah Kota Palu. Luas wilayahnya 61.841,29 km², dan jumlah penduduknya 3.222.241 jiwa (2015). Sulawesi Tengah memiliki wilayah terluas di antara semua provinsi di Pulau Sulawesi, dan memiliki jumlah penduduk terbanyak kedua di Pulau Sulawesi setelah provinsi Sulawesi Selatan.

Sulawesi Tengah kaya akan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi yang menyangkut aspek kehidupan dipelihara dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Kepercayaan lama adalah warisan budaya yang tetap terpelihara dan dilakukan dalam beberapa bentuk dengan berbagai pengaruh modern serta pengaruh agama.

Banyak terdapat kelompok suku/etnis yang sekarang ini masih mendiami daerah Sulawesi Tengah. Sehingga ada beberapa perbedaan di antara etnis tersebut dan inilah yang menjadikan kekhasan yang harmonis dalam masyarakat Sulteng.
Kekayaan Budaya ini patut di banggakan di negeri tercinta ini dan tak kalah menariknya untuk diketahui. Warisan budaya ini wajib di lestarikan, sehingga anak cucu Indonesia lebih cinta kebudayaan Indonesia sendiri ketimbang kebudayaan asing.

SENI DAN BUDAYA

Sebagaimana suku-suku lainnya diwilayah persada Nusantara, Suku Kaili juga mempunyai adat istiadat sebagai bagian kekayaan budaya di dalam kehidupan sosial, memiliki Hukum Adat sebagai aturan dan norma yang harus dipatuhi, serta mempunyai aturan sanksi dalam hukum adat.

Penyelenggaraan upacara adat biasanya dilaksanakan pada saat pesta perkawinan (no-Rano, no-Raego, kesenian berpantun muda/i),pada upacara kematian (no-Vaino,menuturkan kebaikan orang yg meninggal), pada upacara panen (no-Vunja, penyerahan sesaji kepada Dewa Kesuburan), dan upacara penyembuhan penyakit (no-Balia, memasukkan ruh untuk mengobati orang yg sakit); pada masa sebelum masuknya agama Islam dan Kristen, upacara-upacara adat seperti ini masih dilakuan dengan mantera-mantera yang mengandung animisme.

Setelah masuknya agama Islam dan Kristen, pesta perkawinan dan kematian sudah disesuaikan antara upacara adat setempat dengan upacara menurut agama penganutnya. Demikian juga upacara yang mengikuti ajaran Islam seperti: Khitan (Posuna), Khatam (Popatama) dan gunting rambut bayi usia 40 hari (Niore ritoya), penyelenggaraannya berdasarkan ajaran agama Islam.

Beberapa instrumen musik yang dikenal dalam kesenian suku Kaili antara lain : Kakula (disebut juga gulintang,sejenis gamelan pentatonis),Lalove (serunai), nggeso-nggeso (rebab berdawai dua), gimba (gendang), gamba-gamba (gamelan datar/kecil), goo(gong), suli (suling).

Salahsatu kerajinan masyarakat suku Kaili adalah menenun sarung. Ini merupakan kegiatan para wanita didaerah Wani,Tavaili, Palu, Tipo dan Donggala. Sarung tenun ini dalam bahasa Kaili disebut Buya Sabe tetapi oleh masyarakat umum sekarang dikenal dengan Sarung Donggala. Jenis Buya Sabe inipun mempunyai nama-nama tersendiri berdasarkan motif tenunannya, seperti Bomba, Subi atau Kumbaja. Demikian juga sebutan warna sarung Donggala didasarkan pada warna alam,seperti warna Sesempalola / kembang terong (ungu), Lei-Kangaro/merah betet (merah-jingga), Lei-pompanga (merah ludah sirih).

Didaerah Kulawi masih ditemukan adanya pembuatan bahan pakaian yang diproses dari kulit kayu yang disebut Katevu. Pakaian dari kulit Kayu Katevu ini sebagian besar dipakai oleh para wanita dalam bentuk rok dan baju adat.

Sebelum masuknya agama ke Tanah Kaili, masyarakat suku Kaili masih menganut animisme, pemujaan kepada roh nenek moyang dan dewa sang Pencipta (Tomanuru), dewa Kesuburan (Buke/Buriro)dan dewa Penyembuhan (Tampilangi). Agama Islam masuk ke Tanah Kaili, setelah datangnya seorang Ulama Islam, keturunan Datuk/Raja yang berasal dari Minangkabau bernama Syekh Abdullah Raqie. Ia beserta pengikutnya datang ke Tanah Kaili setelah bertahun-tahun bermukim belajar agama di Mekkah. Di Tanah Kaili, Syekh Abdullah Raqie dikenal dengan nama Dato Karama/Datuk Karama (Datuk Keramat), karena masyarakat sering melihat kemampuan dia yang berada di luar kemampuan manusia pada umumnya. Makam Dato Karama sekarang merupakan salah satu cagar budaya yang di bawah pengawasan Pemerinta Daerah.

Hubungan kekerabatan masyarakat suku Kaili sangat tampak kerjasama pada kegiatan-kegiatan pesta adat, kematian, perkawinan dan kegiatan bertani yang disebut SINTUVU (kebersamaan/gotong royong).

Beberapa Pakaian Adat :

1. Pakaian Adat Suku Kaili

Suku Kaili adalah suku mayoritas di Provinsi Sulawesi Tengah yang mendiami Kabupaten Donggala, Sigi, Parigi-Moutong, Tojo-Una Una, Kabupaten Poso, dan Kota Palu. Karena menjadi suku mayoritas dengan persentase >20%, maka kebudayaan suku Kaili lah yang sering mewakili provinsi ini di kancah nasional, termasuk juga dalam hal pakaian adatnya.

Pakaian adat suku Kaili Sulawesi Tengah bernama Baju Nggembe dan Baju Koje. Baju Nggembe adalah baju adat khusus wanita atau remaja putri yang dikenakan saat pesta atau upacara adat.

Baju ini memiliki bentuk yang unik, yakni segi empat dengan kerah bulat dan blus longgar yang panjang sampai ke pinggang. Penggunaan baju Nggembe dilengkapi dengan beberapa aksesoris di antaranya sampo dada (penutup dada), dali taroe (anting panjang), gemo (kalung beruntai), ponto date (gelang panjang), dan pende (pending).

Sebagai bawahan, baju Nggembe dilengkapi dengan sarung tenun donggala yang disebut Buya Sabe Kumbaja. Sarung ini dikepit di pinggang dengan ujung sarung terjuntai di pangkal tangan. Sarung juga dapat diikat dan dilipat ke samping kiri atau kanan pemakainya.

Adapun untuk para bujang atau pria, pakaian adat Sulawesi Tengah dari suku Kaili diberi nama Baju Koje dan Puruka Pajana. Baju koje adalah atasan berupa kemeja dengan kerah tegak, dengan lengan yang panjang. Sementara puruka pajana adalah celana lebar yang dilengkapi dengan sarung di pinggang pemakainya. Para pria juga akan mengenakan destar (penutup kepala) yang disebut siga dan keris yang diselipkan di pinggangnya.

2. Pakaian Adat Suku Mori

Suku Mori adalah suku yang mendiami daerah di sekitar Kabupaten Morowali. Suku ini memiliki pakaian adat yang bernama Lambu. Pakaian adat tersebut untuk perempuannya terdiri atas beberapa pernik yaitu blus berlengan panjang dan rok panjang berwarna merah serta aksesoris lain di antaranya Pewutu Busoki (Konde), Lansonggilo (tusuk konde), tole-tole (anting), enu-enu (kalung), mala (gelang), pebo’o (ikat pinggang), dan sinsi (cincin).

Sementara untuk pria, pakaian yang dikenakan antara lain ke meja dan celana panjang berwarna merah, destar penutup kepala yang disebut bate, dan ikat pinggang yang disebut sulepe.

3. Pakaian Adat Suku Toli Toli (Buol)

Suku Toli-toli mendiami daerah di sekitar Kabupaten Tolitoli. Pakaian adat Sulawesi Tengah dari suku ini untuk perempuannya terdiri dari blus lengan pendek dengan lipatan kecil di bagian lengan dan manik-manik dari pita emas (badu), celana panjang dengan hiasan sama (puyuka), sarung sebatas lutut (lipa), selendang (silempang), dan ikat pinggang berwarna kuning serta beragam aksesoris seperti ting-anting panjang, gelang panjang, kalung panjang warna kuning, dan kembang goyang.

Sementara untuk prianya, pakaian yang dikenakan antara lain blus lengan panjang dengan leher tegak, celana panjang, sarung selutut, dan tutup kepala yang disebut songgo.

4. Pakaian Adat Suku Saluan

Suku Saluan mendiami daerah di sekitar Kabupaten Luwuk. Suku ini memiliki pakaian adat yang disebut pakaian Nu’boune dan rok Mahantan untuk perempuan, serta pakaian Nu’moane dan Koja untuk para pria. Pakaian Nu’boune adalah semacam blus biasa berwarna kuning dengan hiasan bintang sementara rok Mahantan adalah rok panjang semata kaki.

Saat menggunakan pakaian ini, wanita suku Saluan juga akan mengenakan aksesoris di antaranya Potto (gelang), Kalong (kalung), sunting (anting), dan Salandoeng (selendang). Sementara pakaian Nu’moane adalah kemeja biasa dan koja adalah celana panjang berwarna gelap.

Para pria akan mengenakan aksesoris berupa topi yang bernama sungkup Nu’ubak dan sarung bernama lipa. Nah, demikianlah pemaparan mengenai beberapa jenis pakaian adat Sulawesi Tengah dan penjelasannya. Semoga dengan dilengkapi gambar-gambarnya, Anda semakin mudah dalam memahami dan mendeskripsikan pakaian adat dari masing-masing suku yang mendiami provinsi yang beribukota di Kota Palu ini.

Makam Dato Karama

Situs Cagar Budaya makam Dato Karama adalah sebuah situs Budaya berupa pekuburan tempat di makamkannya seorang tokoh penyebar agama Islam yang pertama di Sulawesi Tengah pada abad17. Makam ini terletak di Kampung Lere tidak jauh dari Taman Budaya Palu. Di depan makam ada warung makanan unik ala makassar yang dagingnya serba kuda, ada coto kuda, konro kuda pokoknya serba kuda. Nama Dato Karama sendiri merupakan gelar yang diberikan oleh khalayak yang artinya seorang dato yang sakti atau keramat. Nama asli Dato Karama adalah Abdullah Raqie berasal dari Sumatera Barat. Karena kesaktiannya maka Raja Kabonena I Pue Njidi serta rakyatnya memeluk Agama Islam. Isteri Dato Karama bernama Intje Djille sedangkan anaknya bernama Intje Dongko dan Intje Saribanong, Injte Dongko kawin dengan pemuda dari Sulawesi Selatan. Pada kompleks Makam Datokarama selain makam beliau juga terdapat makam isterinya dan keluarga serta pengikutnya yang terdiri dari 9 (sembilan) makam laki-laki, dan 11 (sebelas) makam wanita serta 2(dua) makam yang tidak jelas, karena nisannya juga tidak jelas.

Musik Etnik Sulawesi Tengah

Instrumen ini dimainkan oleh masyarakat suku Kaili—suku asli di Sulawesi Tengah. Selain di Sulawesi Tengah, instrument ini dapat pula ditemukan di Sulawesi Utara (Bolaang Mongondow), Kalimantan, Sumatra, Maluku, Sabah dan Serawak Malaysia dan Brunai Darussalam. Musik Kakula yang kita kenal sebagai salah satu seni musik tradisional suku Kaili khususnya dan masyarakat Sulawesi Tengah pada umumnya sudah sangat sukar menentukan kapan mulai dikenal oleh masyarakat di daerah ini.

Pada tahun 1618 agama Islam masuk di daerah ini dengan membawa serta pula kebudayaannya. Mengikuti penyebar-penyebar Islam ini sebagai alat pendukung dakwah, mereka membawa serta alat musik yang terbuat dari tembaga/kuningan yang sekarang ini kita kenal dengan Musik Kakula. Alat musik tersebut berbentuk bulat dan pada bagian tengalmya muncul atau munjung, sama dengan bonang di Pulau Jawa.

Sejarah Kehidupan Musik Kakula Namun jauh sebelum alat musik ini masuk, daerah ini sudah mengenal alat musik yang terbuat dari kayu yang pipih dengan panjang kira-kira 60 cm dan tebal 2 cm serta lebar 5 sampai 6 cm disesuaikan dengan nada. Alat musik tersebut juga sering mereka katakan sebagai gamba-gamba.

Gamba-gamba kayu adalah salah satu bentuk embrio atau awal dari musik kakula karena nada yang ada pada musik kakula yang terbuat dari tembaga/kuningan persis dengan nada yang ada pada gamba-gamba atau Musik Kakula Kayu. Masyarakat Sulawesi Tengah yang kita kenal sebagai masyarakat agraris karena sebagian besar penduduk Sulawesi Tengah hidup dari pertanian. Masyarakat itulah pemilik Musik Kakula atau Gamba-gamba kayu.

Perkembangan Musik Kakula Bapak Alm. Hasan M. Bahasyuan adalah seorang seniman musik kakula tradisi (pemain) disamping sebagai pemain musik juga sebagai pencipta tari. Setelah beberapa tarinya berhasil diiringi oleh seperangkat alat musik kakula yang masih pentatonis, terdiri dari tujuh buah kakula dengan nada masing-masing la, do, re, mi, sol, la, si, do, 6 1 2 3 5 6 7 1

Rumah Adat Sulawesi Tengah

Rumah souraja berbentuk rumah panggung yang ditopang sejumlah tiang segiempat dari kayu; beratap bentuk piramide segitiga: bagian depan dan belakang ditutup dengan papan berukir (panapiri) serta pada ujung bubungan bagian depan dan belakang berhias mahkota berukir (bangko-bangko). Bangunan terbagi atas tiga ruangan, yaitu ruang depan (lonta karawana) untuk menerima tamu dan untuk tidur tamu yang menginap; ruang tengah (lonta tatangana) untuk tamu keluarga; serta ruang belakang (lonta rorana), untuk ruang makan, meskipun kadang-kadang ruang makan berada di lonta tatangana. Tempat tidur perempuan dan anak gadis berada di pojok belakang lonta rorana. Dapur (avu), sumur, dan jamban berada di belakang sebagai bangunan tambahan yang dihubungkan melalui hambate, yang berarti jembatan, ke rumah induk.

Rumah souraja di Anjungan Sulawesi Tengah dipergunakan sebagai tempat pameran dan peragaan berbagai aspek budaya: lonta tatangana sebagai ruang pamer berbagai busana daerah serta pasangan pengantin Kaili lengkap dengan pengiringnya; lontana rorana dipergunakan sebgai tempat peragaan ruang tidur keluarga; dan avu dimanfaatkan sebagai ruang peragaan pembuatan kain sarung Donggala.

Tarian Khas Sulawesi Tengah

Tari Pomonte adalah salah satu tari daerah yang telah merakyat di Provinsi Sulawesi Tengah, yang merupakan simbol dan refleksi gerak dari salah satu kebiasaan gadis-gadis suku Kaili pada zaman dahulu dalam menuai padi, yang mana mayoritas penduduk suku Kaili adalah hidup bertani.

*Tari Pomonte telah dikenal sejak tahun 1957 yang di ciptakan oleh seorang seniman besar, putra asli Sulawesi tengah yaitu (alm) Hasan. M. Bahasyuan, beliau terinspirasi dari masyarakat Sulawesi Tengah yang agraris. Tari Pomonte melambangkan sifat gotong-royong dan memiliki daya komunikasi yang tinggi, hidup dan berkembang ditengah masyarakat yang telah menyatu dengan budaya masyarakat itu sendiri.

*Kata POMONTE berasal dari bahasa Kaili Tara ; – PO artinya = Pelaksana – MONTE artinya = Tuai (menuai) – POMONTE artinya = Penuai Tari Pomonte menggambarkan suatu kebiasaan para gadis-gadis suku Kaili di Sulawesi Tengah yang sedang menuai padi pada waktu panen tiba dengan penuh suka cita, yang dimulai dari menuai padi sampai dengan upacara kesyukuran terhadap sang Pencipta atas keberhasilan panen.

Upacara Tradisional

Meskipun sebagian besar masyarakat Sulawesi Tengah telah memeluk agama Islam dan Kristen, namun di sisi lain masih banyak upacara adat yang tetap dijalankan sampai saat ini. Upacara-upacara tersebut merupakan warisan tradisi nenek moyang yang berdasarkan pada kepercayaan asli mereka. Berbagai upacara yang diselenggarakan masyarakat terutama yang berkenaan dengan lingkaran/daur hidup manusia (life cycle), yang terdiri atas kelahiran, masa dewasa, perkawinan, dan kematian. Di samping itu masih banyak upacara lain yang berkaitan dengan aktivitas hidup sehari-hari.

1. Suku Bangsa Pamona

Upacara masa hamil (Katiana)
Upacara masa kelahiran dan masa bayi (Moana)
Upacara menjelang masa dewasa (Maasa)
Upacara kematian, terdiri dari:
Mompolomoasi Tau Majua Mokoasa
Mongkariang
Mompemate
Mogave
Meloa

2. Suku Bangsa Kaili

Upacara masa hamil (Nolama Tai & Novero)
Upacara masa kelahiran dan masa bayi (Nompudu Valaa Mpuse, Nantauraka Ngana, Nosaviraka Ritora, Nokoto/Nosombe Bulua)
Upacara masa kanak-kanak (Nosuna)
Upacara menjelang masa dewasa (Nokeso)
Upacara masa dewasa (Nobau)
Upacara kematian, terdiri dari:
Nopamada
Molumu (masa persemayaman)
Motana Tomate (masa penguburan)

Motahalele
Moombo Ngapa
Motana Bate

3. Suku Bangsa Kulawi

Upacara masa hamil (Halili Bulai)
Upacara masa kelahiran dan masa bayi (Pencorea, Ratoe, Popanaung)

Upacara masa kanak-kanak (Mopahiva)
Upacara menjelang masa dewasa (Ratini, Rakeho, Ratompo, Mancumani)
Upacara kematian

4. Suku Bangsa Dampelas

Upacara masa hamil (Bai Mpole)
Upacara masa kelahiran dan masa bayi (Baratudang & Melongkung)
Upacara menjelang masa dewasa (Molead)
Upacara masa dewasa (Menonto)
Upacara kematian, terdiri dari:
Upacara Sebelum Kematian
Upacara Saat Kematian
Upacara Sebelum Penguburan (Mopohimung)
Upacara Saat Penguburan (Hotanong)
Upacara Sesudah Penguburan (Tahlil & Takzia)

Makanan Khas Sulteng

Kalau berbicara tentang makanan itu tidak akan ada habisnya karena semakin berkembangnya zaman semakin banyak pula makanan yang diciptakan para koki untuk memanjakan lidah para penikmat kuliner. Meskipun begitu, makanan khas daerah masing-masing daerah di Indonesia tetap menjadi incaran para wisatawan lokal maupun wisatawan dari luar Indonesia. Nah! Berhubung saya berasal dari Kota Palu, saya akan berbagi sedikit tentang makanan khas dari kota saya kota tercinta maupun dari luar palu baiknya! Yang berminat, silahkan dibaca!

Makanan Khas Kota Palu yang patut di coba adalah Kaledo atau Sop Tulang Sapi yang dimakan dengan singkong rebus, Kaledo adalah makanan khas kota Palu – Sulawesi tengah.Tak heran bila kota Palu terkadang disebut juga sebagai kota KALEDO, hampir semua orang yang pernah berkunjung ke kota Palu pasti pernah mencicipi makanan yang satu ini, belum terasa lengkap kunjungan ke Palu apabila belum mencicipinya.

Kaledo sejenis sup ( makanan berkuah ) tulang sapi yang bening dengan bumbu cabe rawit yang telah dihaluskan, garam secukupnya dan asam mentah yang terlebih dahulu direbus dan dilumatkan. Rasa asam dan pedas inilah yang menjadi ciri khas dari makanan ini. Hampir di semua rumah makan yang ada di kota Palu menyediakan hidangan ini. Sop kaledo sangat segar rasanya, bisa jadi menu berbuka ataupun untuk santap sahur kamu. Tetapi berhati-hatilah dengan rasa pedasnya!

Apabila kamu berkesempatan bertandang ke kota Palu, Sulawesi Tengah, pastikan sop kaledo masuk dalam daftar wisata kuliner kamu. Monggo dicoba! J

Ikan Bakar Khas Palu, sensasinya jangan pernah dilewatkan kawan! Demi apa kelezatannya tak tertandingi dengan ikan bakar dimanapun.

Karena kota palu dikelilingi oleh lautan, maka hasil lautnya pun berlimpah salah satunya ikan bakar khas palu ini.

Uta Kelo atau biasa disebut juga sayur kelor adalah salah satu makanan khas Kaili, suku yang dominan di Kota Palu. Bahan utama dari makanan ini yaitu daun kelor, santan, biasanya juga ditambah potongan ikan dan pisang, rasanya? Uuueeennaakk tenan! Penasaran? Berkunjunglah ke Kota Palu dan rasakan sendiri nikmatnya!

Palumara yaitu sayur ikan dengan kuah asam yang kental, berwarna kuning, dan lumayan berminyak. Paling enak disantap saat panas, biasanya palumara jadi makanan berat pada saat berbuka puasa. Tidak sulit untuk memdapatkan makanan ini karena banyak dijadikan menu dirumah-rumah makan yang ada di sulawesi tengah. Selamat mencoba!

Uvempoi, sejenis Kuah Asam dari Tulang Sapi yang dihidangkan dengan Burasa, yaitu Nasi santan yang dimasak dalam daun pisang. Makanan ini selalu muncul pada saat perayaan idul fitri ataupun idul adha. Cari saya kalo kamu nda nambah!

Suku Bangsa

Di Propinsi Sulawesi Tengah banyak terdapat kelompok suku/etnis yang sekarang ini masih mendiami daerah Sulawesi Tengah. Sehingga ada beberapa perbedaan di antara etnis tersebut dan inilah yang menjadikan kekhasan yang harmonis dalam masyarakat Sulteng.

Penduduk asli Sulawesi Tengah terdiri atas 15 kelompok etnis atau suku, yaitu:

Etnis Kaili berdiam di kabupaten Donggala, Parigi Moutong, Sigi dan kota Palu

Etnis Kulawi berdiam di kabupaten Sigi
Etnis Lore berdiam di kabupaten Poso
Etnis Pamona berdiam di kabupaten Poso
Etnis Mori berdiam di kabupaten Morowali
Etnis Bungku berdiam di kabupaten Morowali
Etnis Saluan atau Loinang berdiam di kabupaten Banggai

Etnis Balantak berdiam di kabupaten Banggai
Etnis Mamasa berdiam di kabupaten Banggai
Etnis Taa berdiam di kabupaten Banggai
Etnis Bare’e berdiam di Kabupaten Poso,Kabupaten Tojo Una-Una
Etnis Banggai berdiam di Banggai Kepulauan
Etnis Buol mendiami kabupaten Buol
Etnis Tolitoli berdiam di kabupaten Tolitoli
Etnis Tomini mendiami kabupaten Parigi Moutong
Etnis Dampal berdiam di Dampal, kabupaten Tolitoli
Etnis Dondo berdiam di Dondo, kabupaten Tolitoli
Etnis Pendau berdiam di kabupaten Tolitoli
Etnis Dampelas berdiam di kabupaten Donggala

Di samping 13 kelompok etnis, ada beberapa suku hidup di daerah pegunungan seperti suku Da’a di Donggala dan Sigi, suku Wana di Morowali, suku Seasea dan suku Taa di Banggai dan suku Daya di Buol Tolitoli. Meskipun masyarakat Sulawesi Tengah memiliki sekitar 22 bahasa yang saling berbeda antara suku yang satu dengan yang lainnya, namun masyarakat dapat berkomunikasi satu sama lain menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa pengantar sehari-hari.

Selain penduduk asli, Sulawesi Tengah dihuni pula oleh transmigran seperti dari Bali, Jawa, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Suku pendatang yang juga banyak mendiami wilayah Sulawesi Tengah adalah Mandar, Bugis, Makasar dan Toraja serta etnis lainnya di Indonesia sejak awal abad ke 19 dan sudah membaur.

sumber:
http://id.wikipedia.org
http://adat-tradisional.blogspot.com
http://megasrimulyani.student.umm.ac.id
http://telukpalu.com

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.